Sabtu, 02 Mei 2026

Masih Mencari Arti Hidup

Sahabatku, Dinda baru saja menikah 2 Minggu Setelah lebaran kemarin


Aku SMA




 Terhitung sudah 8 tahun aku tidak memeluk diriku sendiri, literally yang beneran curhat sama "aku" dengan cara menulis dan mempublikasikannya seperti ini. Hari ini Sabtu, di Sibayak aku kembali pada diriku yang naif, sebelum akhirnya kami berpisah dengan kehidupan masa laluku di sini. Ya, sebentar lagi kami akan pindah ke Perbaungan. Banyak yang terjadi beberapa tahun belakangan. 

Mulai dari bapak meninggal di Juli 2019, Mas Anggi di 2025, dan hadirnya keponakanku di 2022. Sekarang aku punya keponakan berusia 4 tahun di usiaku yang ke 26 tahun di bulan 11 nanti. Kondisi mamak sekarang memprihatinkan pasca operasi. Aku tidak menyalahkan op-nya, justru itu jadi lebih baik, hanya salah di penanganan pasca op-nya saja. Mamak saat ini full kursi roda sambil merintih kesakitan akibat punggung atau kakinya yang "mungkin" akan permanen hingga akhir hayatnya. 

Aku selalu menyesal tiap kali bersikap ketus saat kesal menghadapi pola mamak yang berulang, entah itu mood swing-nya, ataupun kelabilannya. Kurasa dia sering ngebatin kalau aku ini anak yang durhaka karena tidak sabaran dan tak mau bersikap manis apa lagi lemah lembut. Aku sering tak ambil pusing akan hal itu, toh cukup hanya aku dan Tuhan yang tahu betapa sayangnya aku ke mamak walau aku galak begini. 

Kalau aku? Bagaimana kabarku? 

Hahaha, *ketawa garing kau pasti kecewa melihatmu sekarang, wahai Tami/Mimi muda di masa lalu. Kata maafku percuma karena tak bisa memperbaiki keadaan yang sudah sudah. Terlalu banyak kesalahan langkah yang telah kuperbuat. Tak ada yang bisa kau banggakan dari dirimu yang sekarang. Bahkan diriku yang sekarang juga ga bangga sama aku. 

Kuliah kita gagal. Aku gagal menjadikanmu sarjana, sudah salah langkah sejak aku menghilangkan uang 7,5jt peninggalan bapak karena mau dibodohi sama penipu telepon. Kedua, aku salah pilih tugas akhir, andai aku ambil TA jurnal, mungkin langkah kita bisa lebih mudah. Ternyata malah kita ambil cuti karena jalan kita ga mudah, kita dapat pembimbing skripsi yg rewel walau ketua jurusan kita sudah 3x acc judul skripsi kita. Akhirnya 6 bulan tidak cukup untuk mengejar acc judul, boro-boro bisa nyusun proposal. 

Di kesempatan kerja pertama aku merasa cukup baik, karena kita bisa me-manage keuangan dengan bagus, aku bisa hidup layak dengan gaji 1,2jt yg kusisihkan 600k untuk ditabung, sementara sisanya untuk kebutuhan bayar kos dan makan. Tapi kedamaian itu hanya bertahan 4 bulan sampai aku di-PHK dengan alasan tokonya kelebihan anggota. 

Sepulangnya aku ke kampung karena jobless, kita mengurus mamak yang sakitnya kian parah. Mendampingi mamak bolak balik Kisaran untuk konsultasi spesialis, hingga akhirnya dirujuk ke RS Murni Teguh. Selama proses itu kita ditemani Zikri, walau dia sering membuat kita rendah diri dengan komentarnya tentang penampilan kita yang "kampungan" tapi kuakui dia cukup menghibur dengan memberi kita jajan bulanan (50k/bulan) tanpa kita minta, dan selalu mengajak kita makan enak + nonton tiap ngedate. 

Hubungan ga nyaman itu diperjelas setelah ortunya mentah-mentah menolak kehadiranku pasca Zikri membawaku ke rumahnya. Kami jalani backstreet sambil aku dekat dengan sahabat pria lain, aku memanggilnya Ipi, teman seperjuanganku dalam menghadapi struggle dengan PS-ku. Lagian Zikri juga tidak mempermasalahkan kalau aku dekat dengan yang lain untuk menutupi rasa bersalahnya yang tidak bisa membelaku di depan ortunya. 

Hari-hariku cukup menyenangkan bisa bersahabat dan menghabiskan waktu bersama Ipi sampai akhirnya aku terbutakan dengan pria yg baru kutemui di pekerjaan baruku (Gacoan). Aku sadar dia bukan cowok baik-baik, mulutnya penuh umpatan, penampilannya ga rapi, selalu berburuk sangka pada orang lain, perokok berat, dan suka hutang sana sini. 

Aku cukup waras mengetahui kalau aku menerima manipulasi lewat ketampanan dan permainan katanya yang seolah penuh wawasan dan tipu daya. Berapa kalipun dia menyakitiku dengan perkataan dan perbuatannya (memakiku, memerasku, menduakanku) berkali-kali pula aku bisa luluh dengan bujukannya sambil penuh harapan akan keyakinan semu bahwa suatu saat pasti dia bisa berubah. 

Tapi nyatanya hampir setahun dijalani, dia masih begitu saja. Hanya demi dia, si Doddy ini, aku harus cut off Ipi dan Zikri yang lebih menguntungkanku demi benalu sepertinya yang nyaris tak pernah memberi benefit apa-apa kepadaku. Hingga akhirnya aku muak menangis tiap hari selama setahun itu, badanku kian kurus, aku tak punya tabungan lagi, namaku juga sudah masuk blacklist OJK hanya demi bisa membantu Doddy membeli motor untuk fasilitasnya kerja. 

Tapi kebaikanku selama itu disia-siakan, dia resign dari tempat kerja yang selalu dia banggakan kepadaku bahwa mulai dari sanalah harapan cerah kami dapat diwujudkan, makanya aku tidak setengah hati membantunya. Terakhir aku tau kebohongan Doddy setelah mendesak temannya untuk bercerita. Sejak detik itu aku beranikan diri untuk cut off Doddy yang tak pernah mau membayar hutangnya kepadaku. Penyakit tukang hutang, akan selalu mencari alasan dan pembenaran ntah itu gaslighting dan sejenisnya agar dia tak perlu membayar hutang secepatnya. 

Pelan-pelan kutata hatiku, aku hubungi Ipi kembali, meminta maaf padanya dan konsultasi soal TA ku yang terabaikan selama 2 tahun cutiku karena aku sedikit yakin bisa menyelesaikannya setelah berhutang kepada Syehrial 2jt untuk tambahan membayar UKT.

Awalnya berjalan cukup lancar di usahaku ke sepuluh kali untuk menjumpai Bu Kajur yang selalu saja sibuk, kata PS aku bisa langsung acc judul kalau Kajur juga acc karena si PS merasa iba mengingat aku ketinggalan jauh dengan teman seangkatanku. Tapi tetap saja walau judul sudah acc, dan proposal sudah 1 bab jadi (aku joki btw) udah kupanjar sejuta kalau ga salah, tapi ternyata aku masih terkendala waktu dan keuangan. Satu sisi ga bisa sering izin off buat bimbingan, satu sisi lagi aku stres karena keuangan menipis sementara aku butuh untuk ini dan itu apalagi sudah dekat bulannya untuk lanjut bayar UKT semester 14.

Ujung-ujungnya aku relakan S1 ku. Aku coba minta kembali uang yang sempat kujokikan, tapi si joki hanya mau mengembalikan 200k. Pelan-pelan aku berdamai dengan diri sendiri diselingi teror dari DC pinjol yang tak ada habisnya. Aku ganti kartu, tapi Doddy yg sudah tau nomor baruku akibat kutagihin utangnya, terus menerus ikut menerorku juga. Entah berapa kali dia ganti nomor mengancamku kembali padanya untuk kemudian kublokir dan siklus itu berulang. 

Terakhir dia mengangguku setelah sebulan pulkam, pasca Mas Anggi meninggal. Oh ya, sebelum jadi pengangguran, aku sempat kerja di RamenYa jalan 3 bulan. Padahal sebentar lagi aku lepas training, tapi namanya juga na'as, mau gamau harus tetap pulang jaga mamak. Apalagi sekarang Kak Irma udah balik ke rumah ortunya. Aku cuma berdua saja ini sama mamak. Ini aku ngetik sambil tiduran di kamar depan. Baru juga habis kena omel sama mamak karena dilihatnya aku masih asyik main HP saja, padahal sudah jam setengah 11 malam tadi. 

Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ceritakan padamu, wahai aku di masa lalu dan di masa depan. Tapi kita lanjut aja ya besok. Aku rasa ini akan jadi ber-part-part. Selamat malam~

Aku nak login KC dulu sebelum tidur 😉

Minggu, 22 Desember 2019

Pentingnya Komputer Dalam Proses Pembelajaran

Oleh : Siti Tridia Utamy (0301183220) / PAI-5, semester 3, stambuk 2018
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
S1 Pendidikan Agama Islam

Team Work

Di abad ke-21 ini, kemajuan teknologi dan informasi kian berkembang pesat. Dahulu komputer merupakan barang yang hanya dimiliki oleh kaum menengah ke atas saja, bisa dibilang, komputer itu pegangan mereka yang memiliki posisi minimal sebagai pegawai kantoran ataupun hanya bisa disentuh oleh kaum yang berduit. Dari yang bentuknya cembung, besar, antik, hingga bisa memiliki layar setipis kertas seperti sekarang.
Bahkan kita bisa melipat dan membawa serta menggunakannya kapanpun dan dimanapun kita mau. Tak ayal, bagi generasi milenial sekarang, komputer bukanlah lagi barang khayalan yang ntah kapan bisa disentuh. Karena, mereka dapat menggunakannya meski hanya sekedar untuk bermain game online di warnet dengan membayar minimal lima ribu rupiah per jamnya.

Media & Teknologi Pembelajaran, oleh Pak Syafwan S.Ag. M.Pd.

Keberadaan komputer ini tentu memiliki dampak serta peran yang amat penting di dunia pendidikan sekarang. Melalui jaringan internet yang dapat diakses melalui komputer ataupun android, kita dapat melaksanakan proses belajar dan pembelajaran jarak jauh meskipun terpisah jutaan kilometer. Berbagai data dan tugas dapat disimpan dan diserahkan melalui internet tanpa perlu repot jauh-jauh datang ke kelas langsung (offline). Seperti halnya yang terjadi dengan UT (Universitas Terbuka). Dilansir dari halaman resminya,
UT menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka. Istilah jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi). Makna terbuka adalah tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian. Batasan yang ada hanyalah bahwa setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas (SMA atau yang sederajat).
 
Suasana belajar di kelas PAI-5
Komputer sebagai hasil teknologi modern sangat membuka kemungkinan-kemungkinan yang besar untuk menjadi alat pendidikan. Khususnya dalam pembelajaran, komputer dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi atau ide-ide yang terkandung dalam pembelajaran kepada peserta didik. Selain itu, komputer dapat juga digunakan sebagai media yang memungkinkan peserta didik belajar secara mandiri dalam memahami suatu konsep. Hal ini sangat memungkinkan, karena komputer mempunyai kemampuan mengkombinasikan teks, suara, warna, gambar, gerak, dan video, serta memuat suatu kepintaran yang sanggup menyajikan proses interaktif.
 
Guru sebagai fasilitator pembelajaran
Kiranya pembiasaan diri bagi setiap siswa atau mahasiswa untuk bisa menguasai komputer itu sangat dibutuhkan. Terutama bagi mahasiswa yang mengenyam jurusan pendidikan di kampusnya. Kita tak bisa menutup mata untuk menumpuk rasa enggan dan minder jikalau masih tertinggal jauh dari rekan-rekan yang sudah mahir dalam menggunakan komputer. Kepandaian dalam mengajar saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan softskill lainnya seperti IT, seni, dll. Dengan begitu sebagai pengajar kita bisa menciptakan suasana belajar yang kreatif, edukatif, dan mengasyikkan. Jangan sampai anak didik kita lebih melek teknologi dibandingkan kita sebagai gurunya. Bisa-bisa kita dibodoh-bodohi oleh siswa sendiri. Gak mau kan ya, lantaran itu kita justru dilabeli sebagai guru yang kolot dan gaptek?

Kamis, 17 Januari 2019

WHY NOT?

Kamis, 17 Januari 2019/23:26


Harapan indahku pernah hancur berserakan  dihantam pengumuman SBMPTN 2017. Aku sudah menyusun planning jauh-jauh hari dan ternyata bukan rezekiku disana. Setahun kemudian SBMPTN 2018 juga kujajal. Berbagai persiapan dari latihan sampai meminjam buku bimbel dari teman yang sudah lulus SBMPTN 2017 pun kulakukan. Tapi apa? Toh aku tetap gagal juga. Kalau saja aku anak orang kaya mungkin aku bisa bimbel di GO dan tembus PTN idaman diluar sana. Tapi apa? Kenyataannya aku dilahirkan dari keluarga ekonomi menengah kebawah. Boro-boro dileskan, untuk makan sehari-sehari lancar saja sudah sangat bersyukur sekali. Lagipula apa aku ini? Aku ga sepintar

Jumat, 28 September 2018

Catatan Seorang Introvert


Sumatera Utara

This is taste of fear...
Bisa dikatakan rasa takut itu ada karena kita yang menciptakan.
Takut itu sih wajar. Yang tak wajar itu jika tidak memiliki rasa takut sama sekali. Bayangkan jika kita sama sekali tak memiliki sedikitpun bagian dari rasa itu? Lalu apa jadinya kalau sampai kita tak punya rasa takut terhadap Tuhan?
Rasa takut yang lebay pun tak wajar! Aku membencinya. Ini sih lebih ditujukan for myself yang menurutku

Sabtu, 30 Juni 2018

A moment with you

Aku tak pandai merangkai kata apalagi sajak untuk menghimpunnya ke dalam sebuah puisi. Yang bisa kulakukan hanya menuangkan kisah ini kedalam sebuah tulisan yg sama sekali tak bernilai sastra.
Awalnya aku tak pernah menyangka akan bisa sedekat ini denganmu.
Dulu aku menganggapmu layaknya orang asing yg sering tak nyambung jika kuajak bicara. Bahkan aku pernah merutuki kebolotanmu yg kadang tidak bisa mendengar apa yg kukatakan sebelum kuucapkan sampai 3 kali.
Tapi, barakallaah rencana Allaah itu tidak terduga dan amat indah.😊
Sejauh ini kurasa persahabatan ini tak sia-sia. Kita selalu bisa saling mengingatkan dan menuntun satu sama lain untuk menggapai ridho ilahi.
Aku suka caramu yg selalu memperlakukanku sama seperti kau memperlakukan manusia lainnya tak peduli sifatku yg membosankan ini, hingga akhirnya bisa membuatku nyaman, berani, serta percaya diri untuk berekspresi.
Terimakasih untuk segalanya.
Tetaplah jadi sahabatku sehidup sesurga 💕.



Sabtu, 04 November 2017

PUISI: Hadiah Terindah



Yupp kali ini w maw post salah satu puisi karya adek kelas gw yang memang hobi nulis puisi. Caption sebelumnya sengaja w remake biar ga terjadi fitnah dimana-mana.

Senin, 09 Oktober 2017

Gagal SBMPTN, GAP YEAR jadi pilihan.

Pukul 9:04 pm, Senin 9 Oktober 2017

   Malam ini, diatas ranjang bersama sepupu di kamarnya sembari bersantai menikmati wifi gratis, rasanya aku ingin menulis. Apapun itu. Yang penting menulis. Yah walaupun tulisan ini belum ketemu topiknya atau bahkan gaada topiknya tanpa kusadari ini sudah membentuk 1 paragraf, WOW!👏

Ada kaka seorang blogger yg kukenal dari sebuah grup WA sbmptn mengatakan padaku agar jangan pernah malas menulis. Teruslah ngeblog yg penting