![]() |
| Sahabatku, Dinda baru saja menikah 2 Minggu Setelah lebaran kemarin |
Terhitung sudah 8 tahun aku tidak memeluk diriku sendiri, literally yang beneran curhat sama "aku" dengan cara menulis dan mempublikasikannya seperti ini. Hari ini Sabtu, di Sibayak aku kembali pada diriku yang naif, sebelum akhirnya kami berpisah dengan kehidupan masa laluku di sini. Ya, sebentar lagi kami akan pindah ke Perbaungan. Banyak yang terjadi beberapa tahun belakangan.
Mulai dari bapak meninggal di Juli 2019, Mas Anggi di 2025, dan hadirnya keponakanku di 2022. Sekarang aku punya keponakan berusia 4 tahun di usiaku yang ke 27 tahun di bulan 11 nanti. Kondisi mamak sekarang memprihatinkan pasca operasi. Aku tidak menyalahkan op-nya, justru itu jadi lebih baik, hanya salah di penanganan pasca op-nya saja. Mamak saat ini full kursi roda sambil merintih kesakitan akibat punggung atau kakinya yang "mungkin" akan sakit permanen hingga akhir hayatnya.
Aku selalu menyesal tiap kali tanpa sadar bersikap ketus saat kesal menghadapi pola mamak yang berulang, entah itu mood swing-nya, ataupun kelabilannya. Kurasa dia sering ngebatin kalau aku ini anak yang durhaka karena terlihat tidak sabaran dan tak bersikap manis apa lagi lemah lembut. Aku sering tak ambil pusing akan hal itu, toh cukup hanya aku dan Allah yang tahu betapa sayangnya aku ke mamak walau kelihatannya aku galak begini.
Kalau aku? Bagaimana kabarku?
Hahaha, *ketawa garing.
Kau pasti kecewa melihatmu sekarang, wahai Tami/Mimi muda di masa lalu. Kata maafku percuma karena tak bisa memperbaiki keadaan yang sudah sudah. Terlalu banyak kesalahan langkah yang telah kuperbuat. Tak ada yang bisa kau banggakan dari dirimu yang sekarang. Bahkan diriku yang sekarang juga ga bangga sama aku.
Kuliah kita gagal. Aku gagal menjadikanmu sarjana, sudah salah langkah sejak aku menghilangkan uang 7,5jt peninggalan bapak karena mau dibodohi sama penipu telepon yang mengaku dari kepolisian. Kedua, aku salah pilih tugas akhir. Ada 2 pilihan pengerjaan TA; jurnal atau skripsi, andai aku ambil jurnal, mungkin langkah kita bisa lebih mudah. Ternyata malah kita ambil cuti setelah pilih skripsi karena jalan kita ga mudah, kita dapat pembimbing (PS) yang rewel walau ketua jurusan kita sudah 3x acc judul kita. Akhirnya 6 bulan tidak cukup untuk mengejar acc judul, boro-boro bisa nyusun proposal.
Di kesempatan kerja pertama aku merasa cukup baik, karena kita bisa me-manage keuangan dengan bagus, aku bisa hidup layak dengan gaji 1,2jt yg kusisihkan 600k untuk ditabung, sementara sisanya untuk kebutuhan bayar kos dan makan. Tapi kedamaian itu hanya bertahan 4 bulan sampai aku di-PHK dengan alasan tokonya kelebihan anggota sementara omzet berkurang.
Sepulangnya aku ke kampung karena jobless, kita mengurus mamak yang sakitnya kian parah. Mendampingi mamak bolak balik Kisaran untuk konsultasi spesialis, hingga akhirnya dirujuk ke RS Murni Teguh. Selama proses itu kita ditemani Zikri, walau dia sering membuat kita rendah diri dengan komentarnya tentang penampilan kita yang "kampungan" tapi kuakui dia cukup menghibur dengan memberi kita jajan bulanan (50k/bulan) tanpa kita minta, dan selalu mengajak kita makan enak + nonton tiap ngedate.
Hubungan ga nyaman itu diperjelas setelah ortunya mentah-mentah menolak kehadiranku pasca Zikri membawaku ke rumahnya. Kami tetap jalani backstreet sambil aku dekat dengan sahabat pria lain, aku memanggilnya Ipi, teman seperjuanganku dalam menghadapi struggle dengan PS-ku. Lagian Zikri juga tidak mempermasalahkan kalau aku dekat dengan yang lain untuk menutupi rasa bersalahnya yang tidak bisa membelaku di depan ortunya.
Hari-hariku cukup menyenangkan bisa bersahabat dan menghabiskan waktu bersama Ipi sampai akhirnya aku terbutakan dengan pria yg baru kutemui di pekerjaan baruku (Gacoan). Aku sadar dia bukan cowok baik-baik, mulutnya penuh umpatan, penampilannya berantakan, selalu berburuk sangka pada orang lain, perokok berat, dan suka hutang sana sini.
Aku cukup concern mengetahui kalau aku menerima manipulasi lewat ketampanan dan permainan katanya yang seolah penuh wawasan dan tipu daya. Berapa kalipun dia menyakitiku dengan perkataan dan perbuatannya (memakiku, memerasku, menduakanku) berkali-kali pula aku bisa luluh dengan bujukannya sambil penuh harapan akan keyakinan semu bahwa suatu saat pasti dia bisa berubah.
Tapi nyatanya hampir setahun dijalani, dia masih begitu saja. Hanya demi dia, si Doddy ini, aku harus cut off Ipi dan Zikri yang lebih menguntungkanku demi benalu sepertinya yang nyaris tak pernah memberi benefit apa-apa kepadaku. Hingga akhirnya aku muak menangis tiap hari selama setahun itu, badanku kian kurus, aku tak punya tabungan lagi, namaku juga sudah masuk blacklist OJK hanya demi bisa membantu Doddy membeli motor untuk fasilitasnya kerja.
Tapi kebaikanku selama itu disia-siakan, dia resign dari tempat kerja yang selalu dia banggakan kepadaku bahwa mulai dari sanalah harapan cerah kami dapat diwujudkan, makanya aku tidak setengah hati membantunya. Terakhir aku tau kebohongan Doddy setelah mendesak sahabatnya untuk bercerita. Sejak detik itu aku beranikan diri untuk cut off Doddy yang tak pernah mau membayar hutangnya kepadaku. Penyakit tukang hutang, akan selalu mencari alasan dan pembenaran ntah itu gaslighting, playing victim, dan sejenisnya agar dia tak perlu membayar hutang secepatnya.
Pelan-pelan kutata hatiku, aku hubungi Ipi kembali, meminta maaf padanya dan meminta sarannya soal TA ku yang terabaikan selama 2 tahun cutiku karena aku sedikit yakin bisa menyelesaikannya setelah berhutang kepada Syehrial, teman sekelasku 2jt untuk tambahan membayar UKT.
Awalnya berjalan cukup lancar di usahaku ke sepuluh kali untuk menjumpai Bu Kajur yang selalu saja sibuk. Kata PS aku bisa langsung acc judul kalau Kajur juga acc karena si PS merasa iba mengingat aku ketinggalan jauh dengan teman seangkatanku. Tapi tetap saja walau judul sudah acc, dan proposal sudah 1 bab jadi (aku joki btw) udah kupanjar sejuta kalau ga salah, tapi ternyata aku masih terkendala waktu dan keuangan. Satu sisi ga bisa sering izin off buat bimbingan, satu sisi lagi aku stres karena keuangan menipis sementara aku butuh untuk ini dan itu apalagi sudah dekat bulannya untuk lanjut bayar UKT semester 14.
Ujung-ujungnya aku relakan S1 ku. Aku coba minta kembali uang yang sempat kujokikan, tapi si joki hanya mau mengembalikan 200k. Pelan-pelan aku berdamai dengan diri sendiri diselingi teror dari DC pinjol yang tak ada habisnya. Aku ganti kartu, tapi Doddy yg sudah terlanjur tau nomor baruku akibat kutagihin utangnya, terus menerus ikut menerorku juga. Entah berapa kali dia ganti nomor mengancamku kembali padanya untuk kemudian kublokir dan siklus itu berulang.
Terakhir dia mengangguku setelah sebulan pulkam, pasca Mas Anggi meninggal. Oh ya, sebelum jadi pengangguran, aku sempat kerja di RamenYa jalan 3 bulan. Padahal sebentar lagi aku lepas training, tapi namanya juga na'as, mau gamau harus tetap pulang jaga mamak. Apalagi sekarang Kak Irma (iparku) udah balik ke rumah ortunya. Aku cuma berdua saja ini sama mamak. Ini aku ngetik sambil tiduran di kamar depan. Baru juga habis kena omel sama mamak karena dilihatnya aku masih asyik main HP aja, padahal sudah jam setengah 11 malam tadi.
Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ceritakan padamu, wahai aku di masa lalu dan di masa depan. Tapi kita lanjut aja ya besok. Aku rasa ini akan jadi ber-part-part. Selamat malam~
Aku nak login KC dulu sebelum tidur 😉

Tidak ada komentar:
Posting Komentar